5 Strategi Memperdalam Kolaborasi Siswa


Kerangka untuk pembelajaran Abad 21 seperti yang sudah diulas pada HOTS adalah Komunikasi, Kolaborasi, Berfikir Kritis dan Pemecahan Masalah serta Kreatifitas dan Inovasi. Pada tulisan kali ini akan disampaikan tentang keterampilan kolaborasi. 
Agar siswa kita menjadi pemenang di Abad 21 haruslah memiliki keterampilan kolaborasi atau bekerja sama. Sebagai pendidik sudah selayaknya guru melatih dan membimbing siswa untuk memiliki keterampilan kolaborasi. Keterampilan ini bisa dibiasakan di kelas sebagai bagian dari pembelajaran. Jadi siswa selain belajar materi juga punya keterampilan kolaborasi sekaligus,  dengan demikian perlu rekayasa dan pembimbingan, berikut 5 strategi untuk membelajarkan siswa agar terampil berkolaborasi.


  1. Menciptakan kegiatan pembelajaran yang kompleks. Pembelajaran yang sederhana tidak akan membuat siswa terangsang untuk berkolaborasi, mereka akan cenderung menyelesaikan tugas tugas sendiri. Sedangkan pembelajaran yang kompleks memerlukan pemikiran yang lebih dalam dan multi disiplin maka siswa baik sadar atau tidak terdorong untuk bekerja sama dalam menyelesaikan tugas tugas atau tagihanya. Menurut Johnson dan Holubec Kegiatan Kompleks itu kegiatan yang menantang, menarik, merangsang, dan berlapis-lapis. Kegiatan yang kompleks memerlukan "saling ketergantungan positif". Kegiatan kompleks merupakan situasi di mana untuk mencapai tujuan, menyelesaikan tugas, sukses mendapatkan nilai yang baik mengharuskan tim bekerja sama dan berbagi pengetahuan. Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah melalui proyek-proyek yang ketat yang mengharuskan siswa untuk mengidentifikasi masalah (misalnya, membuat alat peraga sederhana, membuat proyek Sistem Informasi Manajemen suatu kantor dll) dan penelitian melalui, diskusi, debat, serta adanya  waktu untuk mengembangkan ide ide mereka sebagai yang mereka ajukan untuk kemudian diusulkan bersama sama.
  2. Menyiapkan siswa menjadi bagian dari Tim. Siswa agar dapat bekerja sama dengan baik tidak bisa dibiarkan begitu saja melalui instruksi namun harus diarahkan dibimbing dan diasuh, Siswa sering perlu belajar bagaimana untuk bekerja sama secara efektif dengan orang lain dan sebagai bagian dari tim. Kita harus membantu siswa memahami apa, mengapa, dan bagaimana kolaborasi. Kita bisa melakukan ini dalam beberapa cara yaitu: a. Bantu siswa memahami manfaat dari kolaborasi dan kesuksesan kerjasama seperti apa yang akan diraihnya, b.  Bimbing siswa melalui tahapan pengembangan tim (forming, storming, norming, dan performing), c. Beri siswa waktu dan kesempatan dalam kegiatan untuk mengembangkan kepemimpinan, pengambilan keputusan, membangun kepercayaan, komunikasi, dan keterampilan pengelolaan konflik. d. Bangun harapan dan norma-norma untuk bekerja bersama-sama. e. Desain, atau siswa harus membuat desain, aturan main untuk menangani perselisihan atau konflik sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah dalam tim mereka, misalnya ada ketua yang mengatur diskusi, pembagian kerja dsb. f. Ajari siswa untuk menjadi pendengar yang aktif.
  3. Meminimalisasi peluang untung dengan enteng. Sering terdapat siswa yang tidak aktif  dalam diskusi dan menyerahkan segala urusan kepada yang aktif saja namun nilai kelompok meski tidak aktif  dia memperoleh juga.Untuk menghindari terjadinya siswa yang demikian maka dapat diakali dengan  cara berikut: a. Buat kelompok kecil dengan jumlah kurang dari 4 orang, b. Memastikan tingkat tinggi akuntabilitas individu (Johnson, Johnson & Holubec, 2008) dengan menilai siswa baik secara individu maupun sebagai kelompok. Misalnya, pada akhir pembelajaran memberikan kuis kepada siswa secara individu berdasarkan hasil kolaboratif mereka. c. Rancang tugas dan fungsi masing masing siswa pada kelompoknya, misalnya siapa yang menjadi ketua sekretaris pembuat PPT, pembuat makalah dst. d. Mintalah siswa mengevaluasi partisipasi mereka sendiri dan usaha yang telah dilakukanya masing masing dengan saling menilai diantara mereka.
  4. Menciptakan banyak peluang diskusi dan kesepakatan. Jika siswa sering melakukan kolaborasi misalnya tiap mata pelajaran  diawal tahun ajaran membagi siswa kedalam kelompok berdasarkan jumlah materi yang akan tiap kelompok presentasikan maka tentu saja keterampilan siswa akan terasah dan pada ujungnya ketika mereka lulus siap untuk bekerja sama dengan siapapun secara efektif dan  efisien.
  5. Fokus pada penguatan dan merentangkan kepakaran. Tantangan merancang kegiatan kolaboratif yang baik adalah memastikan bahwa semua siswa, bahkan orang-orang yang tetap bertahan dalam keindividualanya, berperan penting. Kolaborasi seharusnya tidak hanya memperkuat kemampuan siswa yang ada tapi memastikan bahwa pengetahuan interaksi mereka saling menambah satu terhadap yang lainya. Jika, seorang siswa jauh lebih kuat di satu keahlian dari teman-temannya, dia bisa mengajar siswa lain dan nilai dia bisa bertambah sebanyak orang yang dia ajari.
Poskan Komentar