Miskonsepsi Terhadap Kurikulum

Pembelajaran yang dilaksanakan dengan kurikulum apapun, sering terungkap banyak permasalahan yang sebenarnya bersumber dari pemahaman  terhadap konsepsi pembelajaran. Konsistensi diperlukan menerapkan landasan filosofis, yuridis terhadap praktikalisnya. Sebenarnya miskonsepsi banyak digunakan dalam mengkaji konsep-konsep pada mata pelajaran. Dalam hal ini saya ingin mencoba menuliskan beberapa miskonsepsi yang muncul terhadap pemahaman kurikulum.
Duit (1996) mengungkapkan bahwa konsepsi adalah representasi mental mengenai ciri-ciri dunia luar atau domain-domain teoritik. Konsepsi merupakan perwujudan dari interpretasi seseorang terhadap suatu obyek yang diamatinya yang sering bahkan selalu muncul sebelum pembelajaran, sehingga sering diistilahkan konsepsi prapembelajaran. Konsepsi prapembelajaran dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu prakonsepsi (preconception) dan miskonsepsi (misconception). Prakonsepsi adalah konsepsi yang berdasarkan pengalaman formal dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan miskonsepsi adalah salah pemahaman yang disebabkan oleh pembelajaran sebelumnya dan kesalahan yang berkaitan dengan prakonsepsi pada umumnya. Prakonsepsi ini bersumber dari pikiran siswa sendiri atas pemahamannya yang masih terbatas pada alam sekitarnya atau sumber-sumber lain yang dianggapnya lebih tahu akan tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Miskonsepsi atau salah konsep merupakan konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para ilmuwan pada bidang yang bersangkutan (Suparno, 2005). Novak (dalam Suparno, 2005) menyatakan bahwa prakonsepsi yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmiah disebut dengan miskonsepsi. Brown (dalam Suparno, 2005) memandang miskonsepsi sebagai suatu pandangan yang naif dan mendefinisikan miskonsepsi sebagai suatu gagasan yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmiah.

Berikut beberapa catatan mengenai miskonsepsi yang dialami oleh guru kepala sekolah dan boleh jadi pengawas sekolah:
  1. Waktu efektif  tidak cukup  menyelesaikan materi yang ada di kurikulum
  2. RPP dibuat sama untuk seluruh kelas dalam satu tingkatan
  3. Autentic assessment tidak mungkin bisa dilakukan untuk mapel yang jumlah jam sedikit dan  mengajar di banyak kelas 
  4. Pembelajaran berpusat pada siswa hanya cocok untuk kelas yang siswanya pandai pandai
  5. Ranking harus ada agar siswa termotivasi untuk belajar
  6. Nilai remedial tidak boleh lebih besar dari KKM
  7. Nilai KKM ditentukan oleh wakasekkurikulum jadi untuk apa membuat analisa KKM
Baiklah kita coba ulas sedikit dimana letak permasalahan sebanarnya,
  1. Kecukupan waktu untuk menyelesaikan seluruh SK/KD diserahkan seluasnya kepada pengajar. Baik kedalaman materi metode sampai pada penilaianya, namun pada kenyataanya mengajar tidak berdasarkan pada perencanaan. Silabus dan RPP sekedar penghias administrasi dan parahnya hasil copas dari ko/kab lain. Banyak yang mengajar berdasarkan pada buku atau LKS, yang nota bene bukan buatan sendiri. Bahkan beberapa dicantumkan namanya karena sudah ada deal dengan salah satu perusahaan percetakan LKS yang draft nya sudah ada, meskipun ada kegiatan revisi tidaklah dilakukan secara all out. Padahal kita semua tahu bahwa kedalaman dan keluasan materi penentunya bukan berdasarkan pada kondisi siswa namun ada perhitungan lain seperti bisnis dan sebagainya. Lalu bagaimana bisa dikatakan waktu tidak cukup padahal perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran tidak taat azas.
  2. RPP, Seorang guru yang mengajar 8 kelas dalam satu tingkatan dengan jurusan yang berbeda misalnya. Maka hampir pasti RPP yang dibuatnya 1 saja, padahal sudah menyadari bahwa pembelajaran bersifat individu dan tentu saja penekanan materi harus disesuaikan dengan masing masing kompetensi keahlian siswa. Seseorang pengajar matematika atau fisika yang mengajar di kelas  TKR dan TKJ maka pendekatan sampai pada pemberian contoh soal akan berbeda. Ini pula yang menyebabkan siswa kurang hirau dengan pelajaran adaptif dan normatif karena kurang membenamkan siswa pada dunianya. Kalau melihat RPP dibandingkan dengan Lesson Plan yang dilakukan pengajar diempat lain, mereka bebas mengekpresikan ide kreatifitasnya. Di Indonesia memang sampai formatnya diatur oleh menteri. Misal kita lihat Lesson Plan karaya Matt Ray (Klik Disini) pendidik memiliki kebebasan menentukan apa yang akan dilakukan di kelas baik format dan lainya. Beberapa contoh lesson plan (Klik disini) memberi gambaran simpel dan bebas . Jadi di buat format saja tidak dilakukan perencanaan atau karena selalu diatur secara formal sehingga menjadi sibuk dengan format tidak dengan jiwa dan substansi mengajar. Di MGMP alangkah indahnya tidak terlalu banyak dibicarakan format ini dan itu, juga sharing keluhan mengenai siswa yang sulit belajar, tetapi akan lebih berharga bagaimana masing masing guru ketika berkumpul memberikan best practice yang telah dilakukan secara konsisten.
  3. Autentic Assessment sulit dilakukan, ya tidak mungkin dilakukan manakala pembelajaran tidak konsisten dengan rancangan utuh kurikulum yaitu scientific approach. Guru yang sibuk menjelaskan bagaimana mungkin bisa memberi banyak penilaian 3 aspek kepada sejumlah siswanya. Penilaian pun bisa diperingan dengan penilaian diri siswa dan penilaian antar teman. Bukankah itu akan lebih membelajarkan siswa untuk jujur dan lebih memperhatkan diri dibanding hanya fokus pada konten materi ajar.
  4. Pembelajaran siswa aktif sesungguhnya berlaku kepada siswa pandai atau lower sekalipun, toh pada realitanya di luar kelas mereka berinteraksi sesamanya dengan ceria, mengapa di dalam kelas harus terpaku dan menurut saja apa yang dikatakan dan diperintah guru. Jika di dalam kelas mereka berkreasi dengan senang sebenarnya sangat tergantung bagaimana guru menstimulasi dan mengarahkan mereka
  5. Pembelajaran kosntruktivis merupakan pembelajaran bagaimana kostruksi konsep dibangun oleh masing masing individu siswa yang tentunya akan berbeda capaianya antara satu siswa dengan yang lain. Kecepatan dan arah konstruksi pun akan berbeda. Maka siswa tidak bisa dibandingkan dengan temannya karena memiliki kondisi dan konsep awal yang berbeda. Guru hanya membatasi konstruksi minimal dan waktu masksimal yang akan digunakan. Jadi siswa dibandingkan dengan masalalunya bukan dengan temanya, karena acuanya adalah kompetensi. Kemudian ada yang beralasan bahwa untuk memacu motivasi sehingga ranking perlu. Berapa banyak siswa yang bisa termotivasi dengan adanya ranking di kelasnya, bukan kah ranking 1 sampai 5 misalnya hanya untuk 5 orang saja, sementara jumlah siswa bisa sampai 40 orang. Ketika dalam perencanaan kita menggunakan konstrukivis learning , begitu juga dalampelaksanaan pembelajaran dan evaluasinya seharusnya konsisten dilakukan. Naif manakala perencanaan dan pembelajaran menggunaakn konstruktivis sementara di penilaian menggunakan behaviorism. 
  6. Remedial, Ketika memberikan tes ulang atau remidial, remidial baiknya dengan pembelajaran ulang, banyak yang mau memberikan nilai lebih dari KKM. Padahal semua menyadari  bahwa pembelajaran yang dilakukan berbasis kompetensi. Karena patokan atau acuanya adalah kompetensi maka tentu saja tujuanya siswa kompeten, berapa kali siswa berusaha sehingga menjadi kompeten tidak ada batasan secara teoritis kecuali secara praktik dimana guru memiliki keterbatasan waktu. Sebenarnya keengganan memberikan nilai lebih dari KKM adalah karena konsep behavioristik masih bercokol di benak, siswa yang langsung kompeten dimungkinkan protes dengan siswa yang dua kali tes kemudian kompeten. Seolah terjadi ketidak adilan, padahal adil itu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Jadi lebih tidak adil lagi ketika tidak mau memberikan nilai lebih dari KKM kepada siswa yang kompeten.Semua siswa bisa jadi juara.
  7. Pernyataan sering muncul ketika penentuan KKM,  KKM ditentukan oleh sekolah jadi untuk apa kita menganalisis KKM, toh nanti harus diatas 75 misalnya. Sebenarnya sekolah menginginkan siiswa lulus semua maka perlu kerja keras semua pihak. KKM yang disodorkan oleh sekolah 75 merupakan tantangan untuk semua guru.Tapi kan intake dan daya dukung rendah?. Disitulah fungsi guru untuk menaikan, intake rendah dinaikan dengan matrikulasi, daya dukung rendah dinaikan dengan kreatifitas pembuatan alat peraga sederhana dan sebaganya. Celakanya karena malas berkreatifitas maka ambil langkah pragmatis,yaitu dengan serta merta menaikan nilai KKM tanpa ada usaha pemenuhan masing masing aspeknya. Nah ini sebenarnya penyebab utama yang menjadikan miskonsepsi.
Posting Komentar