Analisis Pengembangan Kurikulum 2013 pada Tingkat Pendidikan Menengah Kejuruan (SMK) dalam menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu berkompetisi di Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA): Capaian pembelajaran yang dibutuhkan bagi Bangsa Indonesia

A.     MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Asia merupakan benua dengan jumlah negara yang berdaulat sebanyak 50 negara.[1] Negara negara di Asia berkembang pesat terutama empat negara yang yang dikenal sebagai macan Asia yaitu Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan China.[2] Negara-negara di
Asia Bagian tenggara membentuk komunitas yang populer disebut ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) yang kemudian pada tahun 1997 menyepakati AFTA (ASEAN Free Trade Area) yang akhirnya berjumlah 10 Negara  yaitu: Brunei, Indonesia, Mlayasia, Filipina, Singapura dan Thailand. Vietnam bergabung pada tahun 1995, Laos pada tahun 1997 dan Myanmar dan Kamboja pada tahun 1999. Timor Leste belum bergabung kepada kesepakatan AFTA, meskipun sudah menjadi anggota ASEAN.
Pembentukan Asean Economic Community Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau  berawal dari kesepakatan para pemimpin ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan daya saing ASEAN serta bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing. Modal asing dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan warga ASEAN. Pada KTT selanjutnya yang berlangsung di Bali Oktober 2003, petinggi ASEAN mendeklarasikan bahwa pembentukan MEA pada tahun 2015.[3] 
Beberapa hal yang perlu dicermati yang akan menjadi peluang atau ancaman ketika implemantasi MEA dilihat dari blueprint dimana diungkapkan mengenai karakteristik dan elemen dari MEA yaitu:
1.    Pasar Tunggal dan Basis Produksi; Aliran Bebas Barang, Jasa, Investasi,Tenaga Kerja, Prioritas Sektor Integrasi, Makanan, Pertanian dan hutan,
2.    Wilayah Ekonomi Kompetitif; Kebijakan kompetisi, Proteksi konsumen, Perangkat Hak Cipta, Pengembangan Infrastruktur, Pajak, E-Comerce,
3.    Pembangunan Ekonomi Berkeadilan; Pengembangan Usaha Kecil Menengah,
4.    Inisiatif untuk Integrasi ASEAN,
5.    Integrasi kepada Ekonomi Global,
6.    Pendekatan koheren terhadap Hubungan Ekonomi Eksternal,
7.    Peningkatan Partisipasi dalam jaringan pasokan global.[4]
Indonesia masih memiliki kendala dalam menghadapi MEA di akhir tahun 2015 diantaranya : Pertama, mutu pendidikan tenaga kerja masih rendah, di mana hingga Febuari 2014 jumlah pekerja berpendidikan SMP atau dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta pekerja di Indonesia. Kedua, ketersediaan dan kualitas infrastuktur masih kurang sehingga memengaruhi kelancaran arus barang dan jasa. Ketiga, sektor industri yang rapuh karena ketergantungan impor bahan baku dan setengah jadi. Keempat, keterbatasan pasokan energi. Kelima, lemahnya Indonesia menghadapi serbuan impor, dan sekarang produk impor Tiongkok sudah membanjiri Indonesia.
Dari elemen dan karakteristik blueprint MEA dapat disiapkan generasi Indonesia untuk menghadapinya. Penyiapan generasi melalui pendidikan dan latihan yang masive dan terstruktur serta sistematis untuk mengisi pekerjaan-pekerjaan dan menangkap peluang 7 point yang dinyatakan dalam blueprint MEA. Sesungguhnya ketika ditataran teknis pendidikan masih ramai membicarakan landasan pengembangan kurikulum dengan istilah mau dibawa kemana atau quo vadis,  sesungguhnya hal tersebut hanya menangguhkan waktu saja dalam perlombaan negara negara Asia/ASEAN  untuk menjadi pemenang di AFTA dan MEA. Dengan demikian perlu dicermati trend apa saja yang perlu dibidik dalam mempersiapkan peserta didik agar dapat menjadi pemenang pada masa yang akan datang.

B.    TRENDS PEKERJAAN DI ERA MEA
Sewaktu AFTA dan MEA diberlakukan akhir tahun 2015 nanti maka peluang kerja, jabatan dan sektor lapangan pun diperluas namun syarat menjadi lebih diperketat. Persaingan bukan hanya dengan sesama pekerja dalam satu wilayah namun akan bertarung dengan para ekspatriat. Gross National Product (GNP) Indonesia yang pada tahun $2.200 kemudian meningkat tajam menjadi $3.524 pada tahun 2014[5], manakala Sumberdaya Manusia (SDM) Indonesia siap dengan MEA maka peningkatan GNP akan lebih tajam lagi. Konsekuensi logisnya ketika SDM tidak siap maka perubahan ini boleh jadi akan membawa keterpurukan yang luar biasa juga.
Siswa-siswa perlu dipersiapkan kompetensinya untuk setidaknya 10 tahun kedepan sehingga sangat mendukung untuk terciptanya pertumbuhan kesejahteraan yang lebih merata. Pada saat ini sedang booming SMK dan seperti diketahui, spektrum keahlian SMK pada Kurikulum 2006  terbagi dalam 6 bidang studi, 40 program studi dan 121 kompetensi keahlian. Adapun enam bidang studi tersebut adalah Teknologi dan Rekayasa, Teknologi Informasi dan Komunikasi, Kesehatn, Seni Kerajinan dan Pariwisata, Agrobisnis dan Teknologi serta Bisnis dan Manajemen. Pada Kurikulum 2013 menjadi 9 Bidang Studi yaitu: Teknologi   dan  Rekayasa; Teknologi  Informasi  dan  Komunikasi; Kesehatan; Agribisnis  dan  Agroteknologi; Perikanan dan Kelautan; Bisnis dan Manajemen; Pariwisata;  Seni  Rupa dan Kriya dan Seni Pertunjukan.[6]
Realitanya jumlah Bidang Studi yang di selenggarakan terkonsentrasi pada Teknologi dan Rekayasa serta Teknologi Informasi dan Komunikasi. Minat yang sangat tinggi dari masyarakat yang kurang didukung oleh Dunia Usahadan dunia Industri serta sarana dan prasarana yang memadai disekolah menjadi sulit juga buat siswauntuk memperoleh kompetensi yang berdaya saing dengan para ekspatriat.
Menurut Aspillera, Mark: 10 Pekerjaan yang paling top untuk 10 tahun mendatang adalah: Coimputer programmer, Pengasuh Bayi, Perawat Manula,  Pelatihan Pekerja, Insinyur Lingkungan, Perawat Rumah Sakit, Manajemen Konsultan, Spesialis Jaringan, Asisten Dokter, Kordinator Pekerja Sosial.[7]  
Sutanto (2012,10) mengungkapkan bahwa secara umum mengenai kompetensi agar sukses di dunia kerja adalah memahami dan menerapkan prinsip: “sebelum orang lain memahami anda, anda harus memahami orang lain  terlebih dahulu”.[8] Anonim (2011) mengatakan secara umum terdapat 15 keahlian yang harus dimiliki SDM unggul yaitu : Memberikan saran terpercaya, menjadi penentu keputusan, memahami bisnis, berani mengemukakan pendapat, mendukung orang lain,  memerintah SDM, advokasi karyawan, pengendali hasil, nyaman pada posisinya, kolaborasi, memenangkan perubahan, pendengar yang baik, penghasil ide, pembicara persuasif, pelatih kesuksesan.[9]  Sedangkan menurut Wijanarka (11: 2012) karakteristik lulusan pendidikan vokasi agar bisa bertahan di era global  yang selalu berubah  adalah memiliki keterampilan pada bidangnya  yang meliputi pengetahuan, ketrampilan, dan aplikasi pengetahuan dan  ketrampilan, serta  memiliki keterampilan generik  yang berlaku untuk semua level kualifikasi, yaitu: (1) keterampilan-  keterampilan dasar, misalnya  membaca dan berhitung sesuai dengan level dan tipe kualifikasinya, (2) keterampilan sosial seperti bekerja sama dan kemampuan berkomunikasi, (3) keterampilan berpikir  seperti belajar bagaimana belajar (learning to learn), kemampuan mengambil  keputusan dan kemampuan memecahkan masalah; dan (4) keterampilan personal  seperti mandiri dan integritas.
Pekerjaan pekerjaan yang akan di tempuh oleh siswa 10 tahun kedepan pada intinya perlu menggunakan soft skill multiple kecerdasan atau  4 As yaitu: Iklhas (Transedental), Cerdas (Multiple Intelegence),  Mawas (Interpersonal), Tuntas (Profesional). Sedangkan hardskill  yang harus memiliki minimal tiga skill yaitu Bahasa Internasional (I. Inggris/Mandarin), Information Technology (IT) dan Jiwa kewirausahaan (Enterpreunerrship).  

Sebagaimana diatur dalam PP No.08 Tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, Pemerintah mengeluarkan terminologi dari KKNI sebagai kerangka penjenjangan kualifikasi dan kompetensi tenaga kerja Indonesia yang menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikann dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja dalam suatu skema pengakuan kemampuan kerja yang disesuaikan dengan struktur di berbagai sektor pekerjaan. KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri Bangsa Indonesia terkait dengan sistem pendidikan nasional, sistem pelatihan kerja nasional serta sistem penilaian kesetaraan capaian pembelajaran (learning outcomes) nasional, yang dimiliki.[10]  KKNI menjadi output dan outcome  pendidikan formal, dengan adanya KKNI maka terdapat pengakuan kualifikasi berbasis KKNI antara SDM Indonesia dengan SDM Asing.
Skala Keahlian menurut KKNI terdiri dari skala 1 (terendah) sampai skala 9 (Tertinggi). Jenjang Kualifikasi KKNI, jenjang 1-3 dikelompokan sebagai  operator, jenjang 4-6 dikelompokan sebagai teknisi atau analis dan jenjang 7-9 dikelompokan sebagai ahli. Peningkatan level kompetensi dari 1 sampai 9 bisa dapat ditempuh melalui 4 jalur yaitu : pendidikan jalur akademik, dunia kerja, pendidikan profesi atau autodidak/pengalaman. Melalui KKNI Sumber Daya Manusia memilikipeluang untuk memiliki kompetensi tidak hanya melalui satu jalur saja yaitu yaitu pendidikan formal.  Jadi dengan demikian maka seorang yang kurang beruntung tidak dapat melanjutkan pendidikn formal namun memperoleh kesempatan di dunia kerja untuk mengembangkan kompetensi dirinya maka memiliki hakyang sama. Sekarang tidak ada lagi yang bertanya lulusan PT dari mana, dalam atau luar negeri, negeri atau swasta di kampung atau dari kota, tetapai pertanyaanya kompetensi anda level berapa?
Deskripsi KKNI dirumuskan dalam capaian pembelajaran, domain afektif meliputi science dan knowledge sedangkan domain kompetensi meliputi skill dan know how. Parameter deskripsi terdiri dari tiga tingkatan yaitu Kemampuan di bidang kerja, pengetahuan yang dikuasai dan kemampuan manajerial.  Berikut penjelasan masing masing parameter:
1.    llmu pengetahuan (science): suatu sistem berbasis metodologi ilmiah untuk membangun pengetahuan (knowledge) melalui hasil-hasil penelitian di dalam suatu bidang pengetahuan (body of knowledge). Penelitian berkelanjutan yang digunakan untuk membangun suatu ilmu pengetahuan harus didukung oleh rekam data, observasi dan analisa yang terukur dan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman manusia terhadap gejala-gejala alam dan sosial.
2.    Pengetahuan (knowledge): penguasaan teori dan keterampilan oleh seseorang pada suatu bidang keahlian tertentu atau pemahaman tentang fakta dan informasi yang diperoleh seseorang melalui pengalaman atau pendidikan untuk keperluan tertentu. Pengetahuan praktis (know-how): penguasaan teori dan keterampilan oleh seseorang pada suatu bidang keahlian tertentu atau pemahaman tentang metodologi dan keterampilan teknis yang diperoleh seseorang melalui pengalaman atau pendidikan untuk keperluan tertentu.
3.    Keterampilan (skill): kemampuan psikomotorik (termasuk manual dexterity dan penggunaan metode, bahan, alat dan instrumen) yang dicapai melalui pelatihan yang terukur dilandasi oleh pengetahuan (knowledge) atau pemahaman (know-how) yang dimiliki seseorang mampu menghasilkan produk atau unjuk kerja yang dapat dinilai secara kualitatif maupun kuantitatif.
4.    Afeksi (affection): sikap (attitude) sensitif seseorang terhadap aspekaspek di sekitar kehidupannya baik ditumbuhkan oleh karena proses pembelajarannya maupun lingkungan kehidupan keluarga atau mayarakat secara luas. Kompetensi (competency): akumulasi kemampuan seseorang dalam melaksanakan suatu deskripsi kerja secara terukur melalui asesmen yang terstruktur, mencakup aspek kemandirian dan tanggung jawab individu pada bidang kerjanya.
Penjaminan mutu dilakukan baik secara internal pada institusi pendidikan yaitu pada penyusunan capaian kompetensi pembelajaran,  implementasi kurikulum dan tercapainya kualitas lulusan sesuai deskriptor serta secara eksternal. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sebagai penyusun Standar Nasional Pendidikan yang harus dicapai.
                                                                
D.    PENGEMBANGAN KURIKULUM 2013
Kurikulum 2013 hadir didasarkan atas beberapa pertimbangan pertimbangan sebagai berikut:
1.    Tantangan baik internal dimana belum terpenuhinya 8 standar pendidikan serta bonus demografi (240 juta jiwa) dan tantangan eksternal berupa tantangan masa depan seperti WTO, Globalisasi, APEC,  AFTA dan MEA. Persepsi masyarakat mengenai pendidikan hanya mengutamakan kognitif saja dan minimmuatan karakter posititf. Perkembangan pengetahuan paedagogi. Kompetensi masa depan danfenomenanegatif yang mengemuka seperti tawuran korupsi dan sebagainaya.
2.    Penyempurnaan Pola Pikir, dari perkembangan akademik, industri dan sosial budaya memerlukan perubahan pada pengetahuan sikap dan keterampilan maka dengan perngembangan kurikulum  melalui 4 landasan (Filosofi, Psikologi,Sosbud dan IPTEK)[11] diperoleh SDM yang unggul pengetahuan siikapdan keterampilanya. Pada kurikulum 2006 (KTSP), empat Standar yaitu Standar Isi (SI), Standar Proses (SP), Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta Standar Penilaian (SPn) berdiri sendiri sedangkan pada kurikulum 2013 menyempurnakan pola pikir dimana pemikiran dimulai dari akhir yaitu berangkat dari SKL kemudian diturunkan menjadi SI, SP dan SPn.
3.    Penguatan Tata Kelola,  landasan yuridis pada UU SPN No 20 Th. 2003 mengisyaratkan mengenai:  lingkup kompetensi terdiri dari sikap,pengetahuan dan keterampilan, pengembangan pengembangan dan pelaksanaan KBK  serta Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum ditetapkan Pemerintah.
4.    Pendalaman dan Perluasan Materi.
Refleksi hasil PISA disimpulkan hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara negara lain banyak yang sampai level 4, 5, bahkan 6. Dengan keyakinan bahwa semua manusia diciptakan sama, interpretasi dari hasil ini hanya satu, yaitu: yang kita ajarkan berbeda dengan tuntutan zaman maka diperlukan penyesuaian kurikulum.
Refleksi hasil Lebih dari Analisis Hasil TIMSS dan PIRL,  95% siswa Indonesia hanya mampu sampai level menengah, sementara hampir 50% siswa Taiwan mampu mencapai level tinggi dan advance. Dengan keyakinan bahwa semua anak dilahirkan sama, kesimpulan dari hasil ini adalah yang diajarkan di Indonesia berbeda dengan yang diujikan [yang distandarkan] internasional
5.   Penguatan Proses, Kerangka kompetensi manusia Abad 21 yaitu proses pembelajaran tidak cukup hanya untuk meningkatkan pengetahuan [melalui core subjects] saja, harus dilengkapi: Berkemampuan kreatif-kritis-Berkarakter kuat [bertanggung jawab, sosial, toleran, produktif, adaptif,...] Disamping itu didukung dengan kemampuan memanfaatkan informasi dan berkomunikasi, Perlunya mempersiapkan proses penilaian yang tidak hanya tes saja, tetapi dilengkapi dengan penilaian lain termasuk portofolio siswa. Disamping itu diperlukan dukungan lingkungan pendidikan yang memadai[12]
6.    Penyesuaian Beban, Kerangka dan struktur kurikulum,  silabus dasar dan buku disipkan pemerintah.
Dalam perjalananya Kurikulum 2013 berdasarkan hasil Evaluasi Tim 11 (11 Pakar Pendidikan) yang dipimpin Prof. Suyanto akhirnya hanya Sekolah Sasaran saja yang meneruskan pelaksanaan Kurikulum 2013, sekolah lain secara bertahap sampai tahun 2019 baru melaksanakan Kurikulum 2013.
Pengembangan Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. Berikut perbedaan teknis antara kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013 dalam Tabel 1.


Tabel 1.
Perbandingan Kurikulum KTSP terhadap Kurikulum 2013
NO
KTSP
KURIKULUM 2013
1
Mata pelajaran tertentu mendukung kompetensitertentu

Tiap mata pelajaran mendukung semua kompetensi [sikap, keterampilan, pengetahuan] dengan penekanan yang berbeda
2
Mapel dirancang berdiri sendiri dan memiliki kompetensi dasar sendiri

Mata pelajaran dirancang terkait satu dengan yang lain dan memiliki kompetensi dasar yang diikat oleh kompetensiinti tiap kelas
3
Bahasa Indonesia sebagai pengetahuan
Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier off knowledge
4
Tiap mata pelajaran  Semua mata pelajaran diajarkan dengan pende-katan yang  Idealnya

Tiap mata pelajaran diajarkan dengan pendekatan yang berbedaSemua mata pelajaran diajarkan dengan pende-katan yang sama, yaitu pendekatan saintifik melalui mengamati, menanya, mencoba, menalar,....
5
Untuk SMA, ada penjurusan sejak kelas XI

Tidak ada penjurusan di SMA. Ada mata pelajaran wajib, peminatan, antar minat, dan pendalaman minat
6
SMA dan SMK tanpa kesamaan kompetensi

SMA dan SMK memiliki mata pelajaran wajib yang sama terkait dasar-dasar pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
7
Penjurusan di SMK sangat detil [sampai keahlian]

Penjurusan di SMK tidak terlalu detil [sampai bidang studi], didalamnya terdapat pengelompokkan peminatan dan pendalaman
Kunci keberhasilan Kurikulum 2013 adalah manakala persyaratan berikut terpenuhi yaitu: Ketersediaan buku guru dan siswa, buku pedoman penilaian, kompetensi guru, dukungan manajerial; kepala sekolah dan pengawas dan budaya akademik.

E.   CAPAIAN PEMBELAJARAN YANG DIBUTUHKAN
Penyelarasan antara pendidikan dengan kompetensi dibuat dalam bentuk Tabel 2 sebagai berikut:
Tabel 2.
Penyelarasan Pendidikan dan Tingkat Kompetensi
NO
P. AKADEMIK
P.  PROFESI
LEVEL KOMPETENSI (KKNI)
KEL. KOMPETENSI / KARIR
1.     
S3
S3 TERAPAN
SP 2
9
AHLI
2.     
S2
S2 TERAPAN
SP1
8
3.     


PROFESI
7
4.     
S1
D4
6
ANALIS/ TEKNISI
5.     

D3
5
6.     
D2
4
7.     

D1
3
OPERATOR
8.     
SMA
SMK
2
9.     
WAJAR DIKDAS

1

Lulusan SMK berada pada Kel Kompetensi Operator maka menurut PP No.08 Tahun 2012 haruslah memiliki kompetensi seperti pada Tabel 3. sebagai berikut:
Tabel 3.
DESKRIPSI JENJANG KUALIFIKASI KKNI
JENJANG KUALIFIKASI
DESKRIPSI
UMUM
(Seluruh Jenjang)
1.   Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2.     Memiliki moral, etika dan kepribadian yang baik di dalam menyelesaikan tugasnya.
3.     Berperan sebagai warga negara yang bangga dan cinta tanah air serta mendukung perdamaian dunia.
4.    Mampu bekerja sama dan memiliki kepekaan sosial dan kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat dan lingkungannya.
5.    Menghargai keanekaragaman budaya, pandangan, kepercayaan, dan agama serta pendapat/temuan original orang lain.
6.    Menjunjung tinggi penegakan hukum serta memiliki semangat untuk mendahulukan kepentingan bangsa serta masyarakat luas.
1 (OPERATOR)
1.      Mampu melaksanakan tugas sederhana, terbatas, bersifat rutin, dengan menggunakan alat, aturan, dan proses yang telah ditetapkan, serta di bawah bimbingan, pengawasan, dan tanggung jawab atasannya.
2.      Memiliki pengetahuan faktual.
3.      Bertanggung jawab atas pekerjaan sendiri dan tidak Bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain.

Capaian pembelajaran yang dirancang oleh BSNP sebagai pembuat standar pendidikan dinyatakan dalam SKL seperti pada Tabel 4. Berikut ini :
Tabel 4.
STANDAR KOMPETENSI LULUSAN (SKL) SMK
DIMENSI
KUALIFIKASI KEMAMPUAN
SIKAP
Memiliki  perilaku yang mencerminkan sikap  orang beriman, berakhlak mulia,  berilmu,  percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
PENGETAHUAN
Memiliki pengetahuan  faktual, konseptual,  prosedural, dan metakognitif  dalam  ilmu pengetahuan, teknologi, seni,  dan  budaya  dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab serta dampak fenomena dan kejadian.
KETERAMPILAN
Memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sebagai pengembangan dari yang dipelajari di sekolah secara mandiri.

Pada tiap jenjang siswa juga harus mencapai Kompetensi Inti (KI),  KI 1 adalah Kompetensi Spiritual , KI 2 Kompetensi Sosial, KI 3 Kompetensi Pengetahuan dan KI 4 Kompetensi Keterampilan. Kurikulum 2013 sudah selaras dengan KKNI yang menyertakan sikap, pengetahuan dan keterampilan bahkan spiritual disertakan disertakan tersendiri hal demikian untuk menjadikan manusia sebagai manusia meskipun dalam pekerjaanya boleh jadi akan berfungsi sebagai mesin bernyawa. Berikut Kompetensi Inti yang harus di capai siswa selama belajar di SMK dalam Tabel 5
Tabel 5
KOMPETENSI INTI SISWA SMK
KI
KELAS X
KELAS XI
KELAS XII
1
Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya.
Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya
Menghayati dan mengamalkan  ajaran
agama yang dianutnya.
2
Menghayati dan Mengamalkan
perilaku jujur, disiplin, tanggung-jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia.
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung-jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan
menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri
sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung-jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukan sikap
sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan
alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3
Memahami, menerapkan dan
Menganalisis pengetahuan faktual,
konseptual, dan prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk
memecahkan masalah
Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk
memecahkan masalah.
Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif dalam
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan
wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian dalam bidang kerja yang spesifik untuk memecahkan masalah.
4
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara
mandiri, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan
langsung
Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak
secara efektif dan kreatif, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung.
Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu melaksanakan tugas spesifik di bawah pengawasan langsung

            Capaian pembelajaran secara spesifik dari tiap kompetensi keahlian atau mata pelajaran untuk kelompok C1 dan C2 dinyatakan dalam Kompetensi Dasar (KD).  Jika dilihat antara KKNI dengan KI maka sesungguhnya KKNI baik pada aspek umum yang diselaraskan dengan KI 1 (Spiritual) dan 2 (Sosial) sudah selaras bahkan KI melebihi yang diinginkan pada KKNI. KI 3 (Pengetahuan) dan KI 4 (Keterampilan)  juga memiliki standar kompetensi yang lebih di bandingkan dengan KKNI. Demikian pula dengan Standar Penilaian yang mengharuskan guru menilai 3600 dariseorang siswaselama mengikuti pembelajaran di dalam kelas.
Dengan demikian sesungguhnya Kurikulum 2013 sudah memenuhi kebutuhan dasar Dunia Usaha dan Dunia Industri pada era Masyarakat Ekonomi Asean/ASIA (MEA). Permasalahanya adalah pemenuhan syarat keberhasilan kurikulum 2013 yang belum terpenuhi seperti Standar Sarana, Standar tendik,Standar Pengelolaan dan Sandar Pembiayaan. Ketika semua Standar lain terpenuhi maka secara umum kompetensi yang dibutuhkan yaitu literasi IT, bahasa dan entrepreneurship sebagai syarat minimal maka akan terpenuhi.





























DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. “Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum” (Bandung, PT Remaja Rosda Karya, 2013) h. 59
Susanto, Teguh. “Softskill Sukses di Dunia Kerja” (Jakarta PT Suka Buku, 2012, h.10)
Depdiknas.” Gagasan Kurikulum Masa Depan” (Balitbang, 2007 )
ASEAN. “Asean Economic Economic Blueprint”( Jakarta: ASEAN Secretariat,2008)
http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/08/140826_pasar_tenaga_kerja_aec



[8] Teguh Susanto, Softskill Sukses di Dunia Kerja (Jakarta PT Suka Buku, 2012, h.10)
[11] Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum (Bandung, PT Remaja Rosda Karya, 2013) h. 59
Poskan Komentar