Manajemen HP Siswa di Kelas

Handphone (HP) dewasa ini sudah menjadi bagian dari kehidupan siswa yang tidak dapat terpisahkan. Banyak dari pengajar yang kurang hirau terhadap keberadaanya padahal sesungguhnya jika dikelola sedemikian rupa menjadi sumber belajar yang sangat potensial untuk mempercepat konstruksi konsep pada diri siswa. Pengajar  yang tidak hirau boleh jadi karena dalam proses pembelajaranya masih suka mengajar dari pada membelajarkan peserta didik. Bahkan  beberapa sekolah melarang siswanya untuk menggunakan HP selama pembelajaran berlangsung. Hal demikian bukan cara menertibkan yang bijak tentu saja, amun malah mempersulit siswa ketika mengadaptasikan dirinya dalam konstruksi pengetahuan. Beriidakut beberapa tips dalam mengelola penggunaan HP siswa di kelas.

  1. Pada awal tahun ajaran bersama siswa menyepakati kontrak belajar seperti jumlah pertemuan, waktu ulangan harian, UTS,UAS tugas, penilaian dan sebagainya, termasuk didalamnya penggunaan HP.
  2. Pembagian kelompok siswa dan jadwal materi yang akan di presentasikan siswa beserta moderator untuk masing-masing kelompok.
  3. Membuat kesepakatan tentang waktu presentasi, tanya jawab, makalah, format email beserta batas waktunya.
  4. Selama diskusi sepanjang untuk keperluan diskusi dan konstruksi konsep siswa di anjurkan untuk searching melalui gadgetnya agar diskusi menjadi lebih dalam dan mengenai KI/KD yang sudah disampaikan.
  5. Selama prosespembelajaran pendidikpun aktif memberikan penilaian kepada siswa yang memberikan tanggapan, sanggahan, pertanyaan atau jawaban. 
  6. Bagaimana memberikan nilai kepada siswa apakah sebatas asal bertanya dapat point atau harus menggunakan rubrik yang lengkap. Tentu saja pendidik sebagaiseorang yang profesional tahu persis pertanyaan tanggapan atau jawaban siswa setajam apa dan dapat nilai berapa hal itu menjadi hak otoritas pengajar untuk memberikanya.  
  7. Pembelajaran yang searah dimana siswa pasif jelas tidak memungkinkan siswa memanfaatkan HP untuk membantu konstruksi pengetahuanya, dengan demikian jika berbagai kesepakatan  dalam kontrak belajar dibuat namun pemb elajaran klasikal maka menjadi paradox.
  8. Jika kondisi kelas tertata sedemikian rupa maka peserta didik akan terangsang untuk lebih aktif karena jelas dapat reward dan punishment secara langsung. Peserta didik yang abai terhadap pembelajaran maka otomatis tidak akan memperoleh nilai. 
  9. Guru cukup mencatat nilai peserta didik dalam gadget juga dan di akhir pembelajaran disampaikan secara langsung dan di blog agar di ketahui oleh siswa dan orangtuanya. 
  10. Pada akhir pembelajaran guru juga mengulas konsepsi mana yang tidak sesuai dengan konsepsi para ahli atau konsep konsep yang belum tersampaikan.
Jika melihat kepada 10 tips diatas mungkin kita bertanya mengapa pengelolaan penggunaan HP di kelas yang dibicarakan adalah tentang pengelolaan kelas secara umum. Kata kuncinya HP bukan untuk dilarang namun digunakan secara optimal membantu siswa membangun pengetahuan. Optimalisasi itu akan berjalan jika seluruh skema kegiatan tertata dan nyambung dengan metode pembelajaran dewasa kini. Penggunaan aturan secara parsial hanya akan menjadikan siswa mencuri-curi untuk bermain di medsos  misalnya selama pembelajaran berlangsung. Namun jika disuruh sekalian maka energi siswa terarahkan. 
Poskan Komentar