METAKOGNISI, HADIAH YANG TERJAGA

Siswa yang berhasil secara akademis sering mengandalkan pada kemampuanya untuk berpikir secara efektif dan mandiri pada pembelajaranya. Siswa-siswa ini telah menguasai keterampilan dasar namun penting juga seperti menjaga ruang belajarnya  terorganisir, menyelesaikan tugas sesuai jadwal, membuat rencana belajar, pemantauan pola belajar, dan kesiapan mengubah pola. Mereka tidak perlu bergantung pada guru berbeda dengan yang bergantung pada bimbingan untuk memulai tugas-tugas belajar dan memantau perkembanganya. Siswa yang tidak belajar bagaimana "mengelola" diri dengan baik karena melanjutkanya melalui  pengalaman di  sekolah yang justru mengalami kemunduran, akhirnya menjadi patah semangat dan malas belajar, ujungnya cenderung memiliki performa akademis yang lebih rendah.


Banyak guru kita tahu cara menikmati pembelajaran bagaimana menggunakan salah satu alat berpikir yang paling kuat: metakognisi, atau kemampuan untuk berpikir tentang pikiran Anda dengan tujuan meningkatkan pembelajaran. Sebuah metafora yang beresonansi dengan banyak siswa adalah bahwa belajar strategi kognitif dan metakognitif menawari siswa alat untuk "mendorong otaknya." Kabar baik bagi guru dan siswa adalah bahwa metakognisi dapat dipelajari, ketika secara eksplisit diajarkan dan dipraktekkan di seluruh konten dan konteks sosial.

Metakognisi di Otak
Meskipun penelitian pendidikan pada kekuatan metakognisi untuk meningkatkan belajar siswa dan prestasi telah banyak selama beberapa dekade terakhir, para ilmuwan baru mulai untuk menentukan pusat fisik metakognisi di otak. Para peneliti di salah satu Universitas di London telah menemukan bahwa subyek dengan metakognisi lebih baik memiliki masalah yang lebih abu-abu di anterior (depan) korteks prefrontal. Penelitian masih berjalan untuk menentukan seberapa luas otak ini memberikan kontribusi pada keterampilan penting metakognisi.
Guru yang ingin memperkenalkan metakognisi dalam pembelajaran di kelasnya mungkin akan memulainya dengan membaca karya Brains : “Cara Meningkatkan pembelajaran melalui Neuroplastisitas”, dan membelajarkan siswa tentang korteks prefrontal anterior, daerah otak yang menurut para ahli erat dengan metakognisi”.

Bagaimana Mengajarkan Siswa untuk Menjadi Lebih Metakognitif
  1. Secara eksplisit pembelajaran siswa mengenai keterampilan belajar ini penting dengan terlebih dahulu mendefinisikan metakognisi. Terutama kepada  siswa yang lebih muda, kami sarankan metafora - seperti menyetir otak mereka - sebagai cara konkret untuk membimbing mereka ke arah berpikir tentang bagaimana mereka dapat belajar lebih baik. Metafora ini menyentuh keinginan siswa untuk menguasai keterampilan penting untuk menentukan nasibnya kelak.
  2. Mintalah siswa menjelaskan manfaat dan menyediakan contoh mengendalikan otak mereka dengan baik. Misalnya, kadang-kadang kita mungkin perlu mengerem (misalnya, dengan meninjau bacaan, untuk memastikan bahwa bacaan sudah dimengerti) atau menginjak gas (misalnya, dengan mencatat dan mengatur catatan untuk sebuah esai alih-alih terjebak pada bagaimana memulainya). Kita perlu menjaga otak kita bergerak di jalur yang benar dan di sepanjang rute terbaik untuk mencapai tujuan kita.
  3. Bila mungkin, biarkan siswa memilih apa yang ingin mereka baca dan topik yang ingin mereka pelajari lebih banyak. Ketika mereka benar-benar tertarik dan termotivasi untuk belajar tentang belajar, siswa cenderung untuk mempertahankan minat berpikir pada sebuah proyek jangka panjang.
  4. Carilah kesempatan untuk membahas dan menerapkan metakognisi di mata pelajaran inti dan dalam berbagai pelajaran sehingga siswa dapat menerima banyak keuntungan. Ketika seorang guru telah mengajarkan topik ini, dia sering meminta siswa untuk memberikan contoh pada bidang akademik, dalam interaksi dengan teman dan keluarga, dan (untuk siswa yang lebih tua) pada pekerjaan. Jika dia dengan anak-anak, dia bertanya bagaimana orang tuanya menggunakan strategi ini dalam pekerjaan
  5. Model metakognisi berbasis masalah. Ditemukan bahwa pembelajaran pada siswa lebih banyak mengunakan pendengaran. Siswa sering tertawa ketika guru mereka membuat "kesalahan," dan mereka belajar ketika guru berhenti, sebuah proses koreksi.  





Poskan Komentar