RPP Kur 2013 SMK Hasil Diklat dan Refleksi Implementasi

Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan begitu salah satu kata bijak dalam melakukan pekerjaan profesional. Dengan perencanaan berbagai kemungkinan kejadian teramalkan sehingga solusi preventif bisa di reduksi lebih awal. Kejadian berupa kesulitan siswa dan mengkonstruksi konsep atau dalam memecahkan berbagai persoalan kontekstual dan sebagainya.

Perencanaan pembelajaran meliputi Program Tahunan, Program Semester, Silabus dan RPP pada kebanyakan pendidik tidaklah dibuat sendiri, kecenderunganya dilakukan melalui copy-paste dan ubah nama. Sungguh tidak akan menghasilkan pekerjaan yang profesional dan hasil yang maksimal karena pembelajaran profesional membutuhkan perencanaan yang detail.
Contoh-contoh RPP berikut merupakan hasil pekerjaan rekan guru ketika Diklat, bukan untuk copy paste namun lebih sekedar memberi contoh pada format atau strukturnya. Silahkan download dengan mengklik tombol dibawah.
REFLEKSI BEBERAPA KESALAHAN UMUM PEMBUATAN RPP

Berikut beberapa pemahaman yang kurang tepat terhadap perencanaan pembelajaran yang populer dikenal dengan RPP

  1. RPP sekedar administrasi penghias meja kerja di ruang guru yang digunakan kalau ada akreditasi atau ada pemeriksaan baik dari kepala sekolah atau pengawas. Penulis sangat ingat ketika ikut menjadi peserta diklat Science Classroom Supervision,bersama participan lain dari beberapa negara tetangga.Mereka menuliskan tujuan pembelajaran dengan sederhana namun jelas arah dan apa yg akan dilakukan siswa dalam pembelajaran. Mereka cukup kagum dengan format RPP yang saya bawa namun saya tidak bisa menjawab ketika mereka bertanya "apakah semua ini real dilakukan di kelas". Rupanya mereka lebih menghargai substansi daripada administrasi. Di kita sebaliknya pada penilaian baik akreditasi atau apapun penghargaan baru sampai pada administrasi belum melangkah pada substansi. Ketika suatu sekolah akan dikunjungi pada akreditasi baru semua guru sibuk meyalin "copy paste" dari teman MGMP kalau perlu hanya ganti identitas saja. Sehingga pada setiap ada diklat penjual CD RPP kebanjiran order. Ironis memang namun itulah realitanya.
  2. RPP tidak ada maknaya sama sekali terhadap pelaksanaan pembelajaran, pengetahuan mengenai RPP cukup sekedar tahu saja bagaimana pembelajaran dikelas suka suka guru. RPP pada prinsipnya merupakan dokumen suatu kegiatan yang akan dilaksanakan dan setelah selesai dilaksanakan perlu catatan catatan tentang efektifitas dan efisiensi serta kendala dan lainya sehingga pembelajaran selanjutnya menjadi lebih baik. Jika haldemikian secara konsisten dilakukan maka guru tersebut akan merasakan semakin hari pembelajaranya menjadi semakin bermakna. 
  3. Pada RPP K13 hanya beda istilah saja antara Tujuan Instruksional Umum (Kur 1985) atau Tujuan Pembelajaran Umum (Kur 1994) dan Standar Kompetensi (Kur 2006) denganKompetensi Inti (Kur 2013). Perubahan merupakan keniscayaan, seluruh elemen di dunia berubah setiap saat, sehingga sangat aneh dan membingungkan ketika ada perubahan kurikulum muncul banyak resistensi bahkan dari guru sendiri sebagai agen perubahan. Memang perubahan selalu membutuhkan energi dan mengusik kondisi nyaman namun hal ini tidak akan terjadipada tipe guru yang tadi disebutkan yaitu yang selalu setiap masuk kelas dengan perubahan pola pembelajaran. Resistensi terhadap perubahan sesungguhnya hanya menunjukan diri sendiri yang tidak layak menjadi agen perubahan
  4. Tidak ada buku tidak bisa buat RPP. Pada K13 buku disuplai pemerintah secara resmi. Keanehan lain muncul manakala ada guru yang tidak beranjak untuk membuat RPP dengan alasan buku acuan belum ada. RPP bisa dibuat tanpa buku resmi dari pemerintah asalkan kita telah memiliki KI dan KD mapel. Pada kurikulum 1994 setiap guru pada saat itu membuat sendiri tujuan pembelajaran khusus dengan bermodalkan GBPP. Sekarang sumber belajar jika dikumpul bisa puluhan ribu buku. Alangkah indahnya jika para pendidik dalam membuat RPP rajin mengumpulkan sumber dari berbagai artikel yang diperoleh dari jurnal-jurnal baik dalam atau luar negeri baik mengenao content ataupun metodologinya
  5. Tujuan Pembelajaran tidak perlu disertakan untuk yang berkaitan KI 1 dan KI 2. Efektif dan efisienya pembelajaran adalah sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah dibuat beserta indikatornya. Tentu saja tujuan pembelajaran mesti melingkupi baik sikap pengetahuan dan keterampilan. Memang indikator yang dituliskan sebagainama di permendikbud 81a yang wajib dituliskan adalah yang berasaldari KD dari KI 3 dan KI4 namun bahwa secara umum tujuan pembelajaran semestinya mencakup KI1-KI4, tidak ada yang bertentangan karena pada lampiran iv Permendikbud tersebut tertulis Tujuan Pembelajaran saja. Hal demikian berarti seluruh tujuan yang akan dilaksanakan dalampembelajaran.,
  6. Tujuan Pembelajaran tidak mengikuti kaidah ABCD (Audience, behavior, condition dan Degree). Kebanyakan RPP hanya menyertakan audience dan behavior saja padahal kondisi bagaimana siswa memperoleh kompetensi dan tingkatanya sejauh mana penting untuk diketahui secara jelas.
  7. Pada kegiatan Pendahuluan tidak mencantumkan Orientasi apersepsi dan motivasi. Kegiatan orientasi siswa agar siap dalam pembelajaran menghubungkan dengan pembelajaran sebelumnya dan bagaimana siswa merasa betapapentingnya materi yang akan dipelajarinya perlu dinyatakn secara eksplisit agar mantap dan yakin ketika melangkah dalamproses pembelajaran.
  8. Pada Kegiatan inti dituliskan guru melakukan ini dan itu. Pembelajaran sekarang menggunakan pendekatan student center sehingga peran siswa dikelas perlu dinyatakan secara jelas. Biarlah peran guru sebagai fasilitator hanya dituliskansecara implisit namun karena siswa sebagai lakonya maka apa yg dilakukan siswa perlu jelas langkahnya. Logikanya jika guru melakukan sesuatu apa yakinsiswa melakukanya sebagai kegiatan implisit yang dilaksanakan gurutetapi sebaliknyaapapun yang dilakukan guru terserah yang penting siswa melakukan apa yang dituliskan pada kegiatan inti.
  9. Langkah pembelajaran langsung menuliskan 5M tidak menuliskan syntax sesuai metode. Banyak RPP yang karena euphoria scientific approach maka sintax atau langkah pembelajaran yang dilakukan adalah 5M yaitu mengamati menanya menalar mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Padahal ada celah yang memungkinkan terjadinya tidakkonsisten. Misal didalam RPP guru akan membelajarkansiswa dengan metode PBL namun karena menggunakan langkah pembelajaran DL maka jelas tidak konsisten dan tidak terlihat. Apabila penulisan langkah pembelajaran mengggunakan syntax sesuai metode yang digunakan  maka pasti sesuai dengan pendekatan scientific approach
  10. Tidak ada soal sesuai dengan indikator. Soal merupakan instrumen ketercapaian kompetensi. Jika soalnya tidak dibuat maka bagaimana bisa guru mengetahui pembelajaranya berhasilatau tidak. 
  11. Tanpa rubrik penilaian untuk pengetahuan sikap dan psikomotor. Pada Kur 2013 sangat penting membuat rubrik penilaian karena selaproses pembelajaran guru akan sibuk dengan menilai siswa baik dengan tes ataupun non tes baik lisan atau tulusan baik langsung ataupun tidak langsung. Penilaian sikap yang terdiri dari nontes yaitu dengan memberikan angket penilaian diri siswa dan penilaian antar teman dengan skor 0-100 yang dilakukan oleh siswa dan penilaian observasi yang memuat setiadknya 12 sikap secara keseluruhan yang dibagi bagi pada tiap KD yang diajarkan dengan skor 1-5 .Begitu juga dengan penilaian pengetahuan dan keterampilan. Pada Penilaian pengetahuan dimana siswa bertanya menjawab menanggapi pre test post test atau quiz maka perluada rubrikuntuk menilainya. 
  12. Kepala Sekolah yang membuat RPP hampir mustahil. Kepala Sekolah adalah guru yang memperoleh tugas tambahan, jadi tugas utamanya adalah sebagai guru dengan segala kewajibanya. Manakala dalam menjalankan tugas pokoknya saja sudah tidak mampu mampu dilaksanakan bagaimana mungkin memahami pendidikan secara utuh dan menyeluruh. Dalam peribahasasunda dikatakan "cul dogdog tinggal igel' yang artinya meninggalkan musik dan hanya menari. (terbayang orang menari tanpa musik,kalau main musik tanpa tari sih biasa) Dengan berbagai kesibukanya rapat tamu pelaksanaan program dan sebagainya biasanya berkilah tidak mungkin bisa mengajar dengan baik. Benar hal itu demikian adanya, makanya tugas mengajarnya pun tidak banyak minimal hanya 6 jam saja. Bukankah kepala sekolah memiliki wakasek yang perlu diberdayakan dan dicerdaskan melalui pekerjaan dan pendelegasian. Dimana dalam konsep manajerial dikenal akrab istillah staffing organizing dan seterusnya....Banyak hal strategi yang bisa dilakukan untuk mensiasati volume pekerjaan banyak namun harus tetap mengajar. Kepa sekolah yang tidak terbiasa mengajar di tengah kesibukanya lambat laun akan menghilanglah idealisme dan rasa sebagai pendidiknya. Sikap pragmatisme yang akan lebih kental dan ini sangat berbahaya pada duni pendidikan.
Poskan Komentar